Rabu, 16 Juli 2014

MAKALAH ANEMIA BERAT

Diposting oleh Unknown di 14.18


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.         Latar Belakang
Masa setelah melahirkan atau masa postpartum merupakan tantangan bagi banyak ibu yang baru melahirkan. Pemulihan dari proses melahirkan, belajar menjadi orang tua, dan mengurus diri sendiri membutuhkan banyak energi. Menderita anemia pada masa postpartum dapat membuat proses ini menjadi lebih sulit.
    Anemia terjadi jika kadar hemoglobin dalam darah rendah. Hemoglobin adalah zat pembawa oksigen dalam sel darah merah. Jika  terjadi gangguan sistem transportasi oksigen (misalnya anemia) akan menyebabkan tubuh sulit untuk bekerja.Anemia post partum di definisikan sebagai kadar  hemoglobin kurang dari 10g/ dl,  hal ini merupakan masalah yang umum dalam bidang obstetrik, apa lagi jika kadar hemoglobin kurang dari 6g/ dl.

1.2.         Rumusan Masalah
a.       Pengertian Anemia Berat
b.      Tanda dan Gejala Anemia Berat
c.       Prognosa
d.      Indikasi Tindakan
e.       Persiapan Alat, Pasien, dan Petugas
f.       Tindakan
g.      Evaluasi
h.      SOP Penatalaksanaan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.         Pengertian Anemia Berat
a.       Anemia berat adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr%. (Wiknjosastro, 2002)
b.      Anemia merupakan kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11gr% pada trimester I dan III atau kadar < 10,5 gr% pada trimester II. (Saifuddin, 2002)
c.       Anemia merupakan keadaan menurunnya kadar HB, hematokrit, dan jumlah sel darah merah di bawah nilai yang dipatok untuk perorangan. (Arisman, 2008)
d.      Anemia merupakan keadaan dimana level Hb rendah karena kondisi patologis. (Fatmah dalam FKM UI, 2007)
e.       Anemia merupakan berkurangnya kadar eritrosit (sel darah merah) dan kadar Hb dalam setiap mililiter kubik darah dalam tubuh manusia. (Nursalam)
f.       Anemia merupakan suatu kedaan adanya penurunan kadar Hb, hematokrit, dan jumlah eritrosit di bawah normal. (Wirakusumah)
g.      Anemia yaitu gangguan kesehatan berupa kekurangan kadar HB didalam darah; penyakit kurang darah;kekurangan butir-butir dalam darah merah. (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia)

2.2.         Tanda dan Gejala
a.       Koilonychia : suatu keadaan kuku mengidap satu kelainan sehingga berbentuk seperti sendok (anemia karena kekurangan zat besi)
b.      Lidah kelihatan berbintik merah  (sore red tongue) dan meradang (glositis)
c.       Kesulitan dalam menelan yaitu dapat dilihat dari perubahan esofagus.
d.      Seiring limpa membesar
e.       Pengurangan sel darah putih
f.       Takipnea
g.      Nafsu makan berkurang
h.      Merasa pusing dan lemah
i.        Sakit kepala
j.        Tidak enak badan dan nafas pendek
k.      Pucat pada membran mukosa dan konjungctiva
l.        Kulit pucat dan pucat pada kuku jari
m.    Ikterus
n.      Lelah dan sering mengantuk
o.      Lidah mudah terluka
p.       Kondisi Hb kurang dari 6 gr%

2.3.         Prognosa
Kehilangan darah yang signifikan setelah melahirkan dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia postpartum. Banyaknya cadangan hemoglobin dan besi selama persalinan dapat menurunkan risiko terjadinya anemia berat dan mempercepat pemulihan. Menurut analisa terbaru, kehilangan darah pada saat post partum di atas 500 ml masih merupakan suatu masalah dalam penyebab tertinggi angka kematian ibu.

2.4.         Indikasi Tindakan
a.       Perdarahan karena kontraksi otot uterus yang kurang baik.
b.      Bisa terjadi infeksi puerpuralis.
c.       Bisa terjadi sesak nafas, karena O2 berkurang yang masuk kedalam peredaran darah.
d.      Intake kurang misalnya kualitas menu jelek atau muntah terus.

2.5.         Persiapan Alat, Pasien dan Petugas
1.     Persiapan Alat
a.       Infuset
b.      Oksigen
c.       Pemberian vit C
d.      Alat transfusi darah
e.        Obat Anemia Berat: Ferum dextran 1000 mg (20 ml) gluteus/IV atau 2x10 ml/IM pada gluteus dapat meningkatkan kadar HB yaitu 2gr% kemudian transfusi darah sebagai pengobatan anemia.


2.     Persiapan Pasien
a.       Persiapan diri
b.      Persiapan psikologi
c.       Persiapan emosional (dukungan dan anjuran suami dan anggota keluarga lain untuk mendapingi ibu)
d.      Mengatur posisi (posisi yang nyaman)

3.     Persiapan Petugas
a.       Jika ibu segera pulang kerumah setelah persalinan, kadar hemoglobin pascapartum tidak perlu di periksa jika tidak ada riwayat anemia sebelum persalinan dan pendarahan pada saat pelahiran tidak berlebihan. Jika tidak memiliki informasi klinis ,bidan harus bergantung pada gejala klinis ibu; jika gejala ini meliputi letargi, takikardia, dana sesak nafas ,serta gambaran klinis,membrane mokosa pusat, lakukan pemeriksaan profil darah. Berapa peneliti meragukan perkiraan perdarahan setelah persalinan dan penentuan waktu pengambilan darah untuk mengkaji dampak fisiologis perdarahan (Paterson et al 1994). Oleh karena itu, hari pascanatal ketika di lakukan pemeriksaan hemoglobin, dapat memberikan makna klinis pada penatalaksanaan selanjutnya.

b.      Mengidentifikasi diagnose dan masalah potensial sesuai dengan diagnosa dan masalah yang sudah didentifikasi. Mengindetifikasi penuhnya tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk dikonsulkan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain  sesuai dengan kondisi klien.

2.6.         Tindakan
Semua ibu memerlukan pengamatan yang cermat dan penilaian awal pascasalin. Proses pelatanaksaan kebidanan selalu di pakai untuk :
a.       Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan
b.      Memberikan konseling untuk ibu dan keluarga mengenai cara pencegahan perdarahan, mengenai tanda – tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta memperaktekkan kebersihan yang aman.
c.       Memfasilitasi hubungan dan ikatan batin ibu dan bayi
d.      Memulai dan mendorong pemberian ASI.
e.       Sebelum ibu di pulangkan, bidan harus mengumpulkan data untuk memastikan keadaan ibu sudah stabil komponen pemeriksaan fisik dan penilaian :
-          Keadaan umum : bagaimana perasaan ibu
-          TTV
-          Fundus uteri
-          Lokia
-          Kandung kemih
2.7.         Evaluasi
Berdasarkan data yang terkumpul, bidan memutuskan apakah ibu normal atau tidak normal. Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama atau sampai ibu dan bayi stabil.
a.       6 – 8 jam setelah persalinan
o   Mencegah perdarahan masa nifas.
o   Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut.
o   Memberikan konseling pada ibu atau keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas.
o   Pemberian ASI awal
o   Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama atau sampai ibu dan bayi stabil.
b.      3-4 hari
Lakukan pemeriksaan Hb post partum, sebaiknya 3-4 hari setelah anak lahir. Karena hemodialisis lengkap setelah perdarahan memerlukan waktu 2-3 hari.

c.       6 hari-2 minggu setelah persalinan
o   Memastikan involusi uterus berjalan normal
o   Uterus berkontraksi
o   Fundus dibawah umbilicus
o   Tidak  ada perdarahan abnormal
o   Tidak ada bau
o   Menilai tanda-tanda demam,infeksi, atau perdarahan abnormal
o   Memastikan ibu cukup makanan ,cairan dan istirahat
o   Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit

o   Memberikan konseling pada ibu mengenai:
·         Asuhan pada bayi
·         Perawatan tali pusat
·         Menjaga bayi tetap hangat
·         Perawatan bayi sehari-hari
d.      6 minggu setelah persalinan
o   Menanyakan kepada ibu tentang penyulit yang ibu dan bayi alami.

2.8.         SOP



BAB III
PENUTUP
3.1.         Kesimpulan
                Anemia adalah penyakit kurang darah yang ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal (Soebroto, 2010). Gejala Anemia Gejala yang seringkali muncul pada penderita anemia diantaranya (Soebroto, 2010) : Lemah, letih, lesu, mudah lelah, dan lunglai, wajah tampak pucat, mata berkunang-kunang, nafsu makan berkurang. Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa, sering sakit.
Nifas (puerperium) periode waktu atau masa dimana organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil, masa ini membutuhkan waktu sekitar 6 minggu. Anemia pada ibu nifas adalah Suatu keadaan dimana seseorang ibu sehabis melahirkan sampai dengan kira-kira 6 minggu dalam kondisi pucat,lemah, dan kurang bertenaga.
Faktor yang mempengaruhi anemia pada masa nifas adalah persalinan dengan perdarahan, ibu hamil dengan anemia, nutrisi yang kurang, penyakit virus dan bakteri. Anemia dalam masa nifas merupakan lanjutan daripada anemia yang diderita saat kehamilan, yang menyebabkan banyak keluhan bagi ibu dan mengurangi presentasi kerja, baik dalam pekerjaan rumah sehari-hari maupun dalam merawat bayi (Wijanarko, 2010). Pengaruh anemia pada masa nifas adalah terjadinya subvolusi uteri yang dapat menimbulkan perdarahan post partum, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang dan mudah terjadi infeksi mamae (Prawirohardjo, 2005). 

Daftar Pustaka
Myles Buku Ajar Bidan Edisi : 14. Penerbit : Buku Kedokteran EGC, Cetakan Pertama 2009. Hal : 63.
Buku Ilmu Kebidanan Patologi Unpad Bandung.
Prawirohardjo, Sarwono. 1993. Ilmu Kandungan. Jakarta :  Tridasa Printer
Majalah Bidan Edisi No, 48 / 2001 50 Tahun IBI
            Caughlan S. Post-Partum Anemia: Can Prenatal Supplements Prevent It?  2009 [Cited 16th
             November 2010]; Available From:

0 komentar:

Posting Komentar

PESONA CERDAS. Diberdayakan oleh Blogger.
 

PESONA CERDAS Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting