Selasa, 27 Mei 2014

MAKALAH TUMOR OTAK

Diposting oleh Unknown di 23.47


BAB I

KONSEP MEDIS


A.    Definisi
       Tumor otak merupakan sebuah lesi desak ruang jinak atau ganas yang menempati ruang di dalam tengkorak atau tumbuh didalam otak, meningen dan tengkorak. 
Tumor otak merupakan sebuah lesi yang terletak pada intrakranial yang menempati ruang didalam tengkorak. Tumor-tumor selalu bertumbuh sebagai sebuah massa yang berbentuk bola tetapi juga dapat tumbuh menyebar, masuk kedalam jaringan. Neoplasma terjadi akibat dari kompresi dan infiltrasi jaringan. Akibat perubahan fisik bervariasi, yang menyebabkan beberapa atau senua kejadian patofisiologis sebagai berikut:


 
            Klasifikasi tumor otak berdasarkan nama sel yang terserang:
-       Glioma
-       Tumor meningel
-       Tumor hipofisis
-       Neurilemoma /Neuroma akustik
-       Tumor metastasis
-       Tumor pembuluh darah
-       Tumor gangguan perkembangan (congenital)
-       Pinealoma (tumor adneksa)
B.     Etiologi
1)        Glioma
Glioma disebabkan oleh sel-sel glia (mikroglia, oligodendroglia dan astrosit) yang berkumpul membentuk parut sikatriks padat dibagian otak dimana neuron menghilang.
2)        Tumor meningeal / meningloma
Berasal dari meningen, sel-sel mesotel dan sel-sel penyambung arakhnoid dan dura.
3)        Tumor hipofisis
Berasal Dari sel-sel kromofob, eosinofil atau basofil dari hiofofisis anterior.
4)        Neuroma akustik
Tumor yang barasal dari sel-sel schwann selubung saraf yang menyebabkan serabut-serabut saraf otak kedelapan menjadi rusak.
5)        Tumor metastasis
Berasal dari tumor atau kanker sistemik dari daerah lain yang bermetastase ke otak.
6)        Tumor pembuluh darah
Angioma disebabkan malformasi arteriovenosa konginetal. Hemangioblastoma merupakan neoplasma yang terdiri dari unsur-unsur vascular embriologis yang paling sering diserebellum. Sindrome von Hippel-Lindau merupakan gabungan antara hemangioblastoma serebellum, angiomatosis retina, dan kista ginjal dan pancreas.
7)        Tumor gangguan perkembangan (konginetal)
Kordopma terdiri dari  sel-sel yang berasal dari sisa-sisa notokorda embrional dan dijumpai  pada dasar tengkorak.
Teratoma akibat sumbatan pada ventrikel ketiga, akueduktus, atau ventrikel keempat.
Kraniofaringioma berasal dari sisa-sisa duktus kraniofaringeal embrional (kantung rathkp) dan umumnya terletak di posterior sela tursika.
C.     Patofisiologi
Tumor otak menyebabkan gangguan neurologis. Gejala-gejala terjadi berurutan. Hal ini menekankan pentingnya anamnesis dalam pemeriksaan klien. Gejala-gejalanya sebaiknya dibicarakan dalam suatu perspektif waktu.
Gejala neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh 2 faktor gangguan fokal, disebabkan oleh tumor dan tekanan intrakranial. Gangguan fokal terjadi apabila penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi/invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron. Tentu saja disfungsi yang paling besar terjadi pada tumor yang tumbuh paling cepat.
Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan cerebrovaskuler primer. Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuro dihubungkan dengan kompresi invasi dan perubahan suplai darah ke jaringan otak. Beberapa tumor membentuk kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga memperberat gangguan neurologis fokal.
Peningkatan tekanan intra kranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor : bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya oedema sekitar tumor dan perubahan sirkulasi cerebrospinal. Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya massa, karena tumor akan mengambil ruang yang relatif dari ruang tengkorak yang kaku. Tumor ganas menimbulkan oedema dalam jaruingan otak. Mekanisme belum seluruhnyanya dipahami, namun diduga disebabkan selisih osmotik yang menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan oedema yang disebabkan kerusakan sawar darah otak, semuanya menimbulkan kenaikan volume intrakranial. Observasi sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel laseral ke ruang sub arakhnoid menimbulkan hidrocepalus.
Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa, bila terjadi secara cepat akibat salah satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya. Mekanisme kompensasi memerlukan waktu berhari-hari/berbulan-bulan untuk menjadi efektif dan oelh karena ity tidak berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat. Mekanisme kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume darah intra kranial, volume cairan serebrospinal, kandungan cairan intrasel dan mengurangi sel-sel parenkim. Kenaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan herniasi ulkus atau serebulum. Herniasi timbul bila girus medialis lobus temporals bergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan men ensefalon menyebabkab hilangnya kesadaran dan menenkan saraf ketiga. Pada herniasi serebulum, tonsil sebelum bergeser ke bawah melalui foramen magnum oleh suatu massa posterior. Kompresi medula oblongata dan henti nafas terjadi dengan cepat. Intrakranial yang cepat adalah bradicardi progresif, hipertensi sistemik (pelebaran tekanan nadi dan gangguan pernafasan).
Tumor otak terjadi karena adanya proliferasi atau pertumbuhan sel abnormal secara sangat cepat pada daerah central nervous system (CNS). Sel ini akan terus berkembang mendesak jaringan otak yang sehat di sekitarnya, mengakibatkan terjadi gangguan neurologis (gangguan fokal akibat tumor dan peningkatan tekanan intrakranial).
D.    Manifestasi Klinik
Trias klasik tumor otak adalah nyeri kepala, muntah dan papilidema.
1. Nyeri Kepala
            Nyeri dapat digambarkan bersifat dalam, terus-menerus, tumpul dan kadang-kadang hebat sekali. Nyeri ini paling hebat waktu pagi hari dan menjadi lebih hebat oleh aktivitas yang biasanya meningkatkan tekanan intracranial seperti membungkuk, batuk atau mengejan pada waktu buang air besar.
Nyeri kepala yang dihubungkan dengan tumor otak disebabkan oleh traksi dan Pergeseran struktur peka nyeri dalam rongga intra cranial. Struktur peka nyeri ini termasuk arteri, vena, sinus-sinus vena, dan saraf otak.
            Lokasi nyeri kepala sepertiga terjadi pada tempat tumor sedangkn sepertiga lainnya terjadi didekat atau diatas tumor. Nyeri kepala oksipital merupakan gejala utama pada tumor fosa posterior. Kira-kira sepertiga lesi supratentorial menyebabkan nyeri kepala frontal.
2. Nausea dan Muntah  
            Nausea dan muntah terjadi akibat rangsangan/iritasi pada pusat vagat di medulla oblongata, kadang-kadang juga dipengaruhi oleh asupan makanan. Muntah paling sering terjadi pada anak-anak dan berhubungan dengan peningkatan tekanan intracranial disertai pergeseran batang otak.
Muntah dapat terjadi tanpa didahului nausea dan dapat proyektil.
3. Papiledema     
Papiledema disebabkan oleh statis vena yang menimbulkan pembengkakan pada saraf optikus. Bila terlihat pada pemeriksaan funduskopi, tanda ini mengisyaratkan peningkatan TIK, namun sulit menggunakan tanda ini untuk mendiagnosis tanda ini. Menyertai papiledema dapat terjadi gangguan penglihatan, termasuk pembesaran bintik buta dan amaurosis fugaks.
E.     Komplikasi
1.    Gangguan fungsi neurologis
2.    Gangguan kognitif
3.    Gangguan tidur dan mood
4.    Disfungsi seksual
F.      Pemeriksaan Penunjang
1.    Pencitraan CT (CT Scan) untuk memberikan informasi spesifik yang menyangkut jumlah, ukuran dan kepadatan jejas tumor dan meluasnya edema serebral sekunder, juga memberi informasi tentang system ventrikuler.
2.    MRI  untuk menghasilkan deteksi jejas yang kecil. Umumnya untuk mendeteksi tumor didalam batang otak didaerah hipofisis.
3.    Biopsi stereotaktik bantuan computer (tiga dimensi) untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan imformasi prognosis.
4.    Angiografi  serebral memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral.
5.    Elektroensefalogram(EEG)untuk mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang
6.    Penelitian sitologis pada cairan serebrospinal (CSF) dapat dilakukan untuk mendeteksi sel-sel ganas, karena tumor-tumor pada SSP mampu menggusur sel-sel kedalam cairan serebrospinal.
G.    Penatalaksanaan
Variasi pendekatan untuk pengobatan:
1.    Pendekatan pembedahan konvensional memerlukan insisi tulang (kraniotomi).
2.    Pendektan Stereotaktik.  Laser atau radiasi dapat dilepaskan dengan pendekaan stereotaktik. Radioisotop dapat juga ditempatkan langsung kedalam tumor unuk menghasilkan dosis tinggi pada radiasi tumor (brakhiterapi) sambil meminimalkan pengaruh pada jaringan otak disekitarnya.
3.    Penggunaan pisau gamma pada bedah radio sampai dalam, untuk tumor yang tidak dapat dimasukkan obat.
4.    Kemoterapi dan terapi sinar radiasi eksternal
5.    Transplantasi sumsum tulang autolog intravena digunakan pada beberapa pasien yang akan menerima kemoterapi karena keadaan ini penting sekali untuk menolong pasien terhadap adanya keracunan pada sumsum tulang sebagai akibat dosis tinggi kemoterapi dan radiasi. Sumsum tulang pasien diaspirasi sedikit, biasanya dilakukan kepala iliaka dan disimpan pasien yang menerima dosis kemoterapi dan terapi radiasi yang banyak akan menghancurkan sejumlah besar sel-sel keganasan (malignan). Sumsum kemudian diinfus kembali setelah pengobatan lengkap. Kortikosteroid boleh digunakan sebelum pengobatan sesuai dengan diperkenankannya penggunaan obat ini, yang didasari melalui evaluasi diagnostic dan kemudian menurunkan edema serebral dan meningkatkan kelancaran serta pemulihan lebih cepat.

BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Pengkajian Keperawatan
1)      Aktivitas / istirahat
Gejala: Keterbatasan akibat keadaan
Ketegangan mata, sakit kepala yang hebat pada saat perubahan postur  tubuh aktivitas (kerja)
     Tanda : Gangguan tonus otot dan terjadi kelemahan umum.
Gangguan penglihatan
                   Ataksia, masalah berjalan
2)      Integritas Ego
Gejala: Faktor-faktor stress emosional / perubahan status emosional dan tingkah laku.
 Perubahan dalam berhubungan
Depresi, gangguan kepribadian
Disintegrasi perilaku mental
 Tanda : Bingung
 Pelebaran rentang respon emosional
 Ekstrem yang tidak ter
3)      Makanan cairan
     Gejala : mual dan muntah
     Tanda : Muntah (proyektil)
4)       Neurosensori
    Gejala : Pening, sakit kepala
Adanya aura atau (visual, area halusinogenik, auditoris, tinnitus)
            Kejang
            Perubahan visual
            Kelemahan progresif / paralysis
Tanda : Perubahan dalam pola bicara / proses piker
     Papiledema
 Perubahan status mental
  Gangguan penginderaan : penglihatan dan pendengar
           Ketidakseimbangan
           Refleks tendon lemon
           Afraksia, hemiparese, atasia.
5)       Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri hebat, menetap, menyeluruh atau intermitten  Seringkali membuat pasien terbangun, mungkin terlokakisasi pada posisi     tertentu
Tanda : Nyeri
            Fokus menyempit
            Respon emosional / perilaku tak terarah
            Otot-otot daerah leher menegang, rigiditas nukal.
6)       Keamanan
Tanda : Sakit kepala
             Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisi, hipotoni
             Penurunan kekuatan
             Gangguan penglihatan
7)      Interaksi sosial
Tanda : Afasia motorik Masalah dalam hubungan  Interpersonal dalam keluarga atau lingkungan sosialnya.
B.     Diagnosa Keperawatan
1.    Kurang perawatan diri berhubungan kehilangan atau kerusakan fungsi motorik dan sensori serta penurunan kemampuan kognitif
2.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kakesia akibat pengaruh tumor.
3.    Nyeri berhubungan dengan penekanan tumor
4.    Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler
5.    Ansietas berhubungan dengan kemungkinan kematian, perubahan dalam penampilan.
6.    Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis
C.     Intervensi Keperawatan
1.    Kurang perawatan diri berhubungan kehilangan atau kerusakan fungsi motorik dan sensori serta penurunan kemampuan kognitif
Tujuan : Melakukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri
Intervensi            
a.    Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 0-4) untuk melakukan kebutuhan sehari-hari
Rasional: Membantu dalam mengantisipasi atau merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual
b.    Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan
Rasional: Pasien ini mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat dalam mencegah frustasi, adalah penting bagi pasien untuk melakukan sebanyak mungkin untuk diri sendiri untuk mempertahankan harga diri dan meningkatkan pemulihan
c.    Sadari perilaku (aktivitas) impulsif karena gangguan dalam pengambilan keputusan
Rasional: Dapat menunjukan kebutuhan intervensi dan pengawasan tambahan untuk meningkatkan keamanan pasien
d.   Pertahankan dukungan, sikap yang tegas. Beri pasien waktu yang cukup untuk mengerjakan tugasnya
Rasional: Pasien akan memerlukan empati tetapi perlu untuk mengetahui pemberi asuhan yang akan membantu pasien secara konsisten
e.    Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya
Rasional: meningkatkan perasaan makna diri. Meningkatkan kemandirian, dan mendorong pasien untuk berusaha secara kontinu
2.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kakesia akibat pengaruh tumor.
Tujuan : - Mendemonstrasikan pemeliharaan / kemajuan peningkatan berat badan sesuai tujuan
2.    Tidak mengalami tanda-tanda malnutrisi, dengan nilai laboratorium dalam rentang normal
Intervensi :
a.    Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah, menelan, batuk dan mengatasi sekresi
Rasional: Faktor ini menentukan pemilihan terhadap jenis makanan sehingga pasien harus terlindungi dari aspirasi.
b.    Auskultasi bising usus, catat adanya penurunan / hilangnya atau suara yang hiperaktif
Rasional: Bising usus membantu dalam menentukan respon untuk makan atau berkembangnya komplikasi.
c.    Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional: Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi
d.   Jaga keamanan saat memberikan makan pada pasien, seperti tinggikan kepala tempat tidur selama makan atau selama pemberian makan lewat selang NG
Rasional : Menurunkan resiko regurgitasi dan atau terjadinya respirasi
e.         Berikan makanan dalam jumlah kecil dan dalam waktu yang sering dan teratur.
Rasional : Meningkatkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutrisi yang di berikan dan dapat meningkatkan kerjasama pasien saat makan.
f.     Tingkatkan kenyamanan, lingkungan yang santai termasuk sosialisasi saat makan. Anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang di sukai pasen
Rasional : Meskipun proses pemilihan pasien memerlukan bantuan dan/atau menggunakan alat Bantu, sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makan.
g.    Berikan makan dengan cara yang sesuai, seperti melalui selang NG, melalui oral dengan makanan lunak dan cairan yang agak kental
Rasional: Pemilihan rute pemberian tergantung pada kebutuhan dan kemampuan pasien. Makan melalui selang ( NG ) mungkin di perlukan pada awal pemberian.
3.    Nyeri berhubungan dengan penekanan tumor
Tujuan : - Melaporkan nyeri hilang / terkontrol
3.      Menunjukan postur rileks dan mampu tidur / istirahat dengan tepat
Intervensi :
a.    Berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak gelap sesuai indikasi
Rasional : Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensifitas pada cahaya dan meningkatkan istirahat / relaksasi.
b.    Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan diri yang penting
Rasional : menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri.
c.    Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata.
Rasional: Meningkatkan vasokonstriksi, menumpulkan persepsi sensori yang selanjutnya akan menurunkan nyeri.
d.   Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman, seperti kepala agak tinggi sedikit
Rasional : Menurunkan iritasi meningeal, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut.
e.    Berikan latihan rentang gerak aktif / pasif secara tepat dan masase otot daerah leher / bahu.
Rasional : Dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot yang meningkatkan reduksi nyeri atau rasa tidaknyaman tersebut.
f.     Kolaborasi dalam pemberian analgetik
Rasional : mungkin di perlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat
4.    Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler
Tujuan : Mempertahankan pola pernapasan normal / efektif, bebas sianosis, dengan GDA dalam batas normal pasien.
Intervensi :
a.       Pantau frekuensi, irama, kedalaman pernafasan. Catat ketidak teraturan pernafasan.
b.      Catat kompetensi refleks gag / menelan dan kemampuan pasien untuk melindungi jalan napas sendiri, pasang jalan napas sesuai indikasi.
c.       Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya, posisi miring sesuai indikasi.
d.      Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam yang efektif jika pasien sadar.
e.       Lakukan penghisapan dengan ekstra hati-hati, jangan lebih dari 10-15 detik. Catat karakter, warna, dan kekeruhan dari secret.
f.       Auskultasi suara napas, perhatikan daerah hipoventilasi dan adanya suara-suara tambahan yang tidak normal ( seperti krekels, ronki, mengi)
g.      Pantau penggunaan dari obat-obat depresan pernapasan, seperti sedatif.

DAFTAR PUSTAKA


Bruner and Sudarth, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Vol.2. EGC. Jakarta

Doengoes, E Marilyn, 2000,  Rencana Asuhan Keperawatan. EGC. Jakarta.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Maaf itu referensi salah. Harusnya Vol.3
Thks

Posting Komentar

PESONA CERDAS. Diberdayakan oleh Blogger.
 

PESONA CERDAS Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting