Sabtu, 05 Juli 2014

PENCEGAHAN INFEKSI YANG BENAR

Diposting oleh Unknown di 04.36

PRINSIP PENCEGAHAN INFEKSI

Tujuan Belajar
Setelah mempelajari bab ini , anda diharapkan dapat:
1. Menjelaskan  proses transmisi kuman
2. Transmisi kuman dan cara penularan mikroorganisme
3. Menjelaskan factor yang mempengaruhi proses infeksi
4. Menjelaskan infeksi nosokomial
5. Menjelaskan pencegahan infeksi
6. Menjelaskan dan melakukan cuci tangan
7. Menjelaskan dan menggunakan alat pelindung
8. Menjelaskan aseptis dan antiseptic
9. Melakukan pemrosesan alat/ instrument
10. Menjelaskan dan melakukan penanganan sampah

TRANSMISI KUMAN
Transmisi kuman merupakan proses masuknya kuman ke dalam tubuh manusia yang dapat menimbulkan radang atau penyakit. Proses tersebut melibatkan beberapa unsure antara lain :
1.    Reservoir merupakan habitat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme (MO), dapat berupa manusia, binatang, tumbuhan dan tanah.
2.    Jalan masuk merupakan jalan masuknya MO ke tempat penampungan dari berbagai kuman seperti saluran pernapasan, pencernaan , kulit, dan lain-lain.
3.    Inang (Host) tempat berkembangnya suatu MO, yang dapat didukung oleh ketahanan kuman
4.    Jalan keluar tempat keluar MO dari reservoir, seperti system respirasi, pencernaan, alat kelamin, dll.
5.    Jalur penyebaran merupakan jalur yang dapat menyebarkan berbagai kuman MO ke berbagai tempat, seperti air, makanan, udara, dll.

CARA PENULARAN MIKROORGANISME ( MO ).
Proses penyebaran MO ke dalam tubuh, baik pada manusia maupun hewan, dapat melalui berbagai cara, diantaranya :
1.    Kontak tubuh. Kuman masuk kedalam tubuh melalui proses penyebaran secara langsung, maupun tidak langsung. Penyebaran secara langsung melalui sentuhan dengan kulit, sedangkan secara tidak langsung dapat melalui benda yang terkontaminasi.
2.    Makanan dan minuman. Dapat melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi mis. Penyakit tifus abdominalis, penyakit infeksi cacing, dll.
3.    Serangga. Penyebaran penyakit malaria oleh plasmodium pada nyamuk anoples, dan beberapa penyakit saluran pencernaan yang dapat ditularkan melalui lalat.
4.    Udara. Misalnya dijumpai pada penyebaran penyakit system pernapasan.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES INFEKSI.
1.    Sumber penyakit, Sumber penyakit dapat mempengaruhi apakah infeksi berjalan cepat atau lambat.
2.    Kuman penyebab, dapat menentukan jumlah MO, kemampuan MO masuk ke dalam tubuh, dan virulensinya.
3.    Cara membebaskan sumber dari kuman. Dapat ditentukan apakah proses infeksi cepat diatasi atau diperlambat, seperti tingkat keasaman ( pH), suhu, penyinaran (cahaya), dll.
4.    Cara penularan. Seperti kontak langsung, melalui makanan atau udara
5.    Cara masuknya kuman. Proses penyebaran kuman berbeda , tergantung dari sifatnya. Misalnya penyebaran melalui pernafasan, pencernaan, kulit dsb.
6.    Daya tahan tubuh.Daya tahan tubuh yang baik dapat memperlambat proses infeksi atau mempercepat proses penyembuhan. Faktor lain adalah Gizi/nutrisi,tingkat stress tubuh, factor usia, atau kebiasaan yang tidak sehat.

INFEKSI NOSOKOMIAL.
Adalah infeksi yang terjadi di rumah sakit atau dalam system pelayanan kesehatan yang berasal dari proses penyebaran di sumber pelayanan kesehatan.

Sumber Infeksi Nosokomial :
1.    Pasien. Merupakan unsure utama yang dapat menyebarkan infeksi ke pasien lainnya, petugas kesehatan, pengunjung atau benda/alat kesehatan lainnya.
2.    Petugas kesehatan. Penyebarannya melalui kontak langsung yang dapat menularkan berbagai kuman ke tempat lain.
3.    Pengunjung. Penyebarannya infeksi yang didapat dari luar ke dalam lingkungan rumah sakit atau sebaliknya, yang didapat dari dalam RS ke luar RS.
4.    Sumber lain. Misalnya lingkungan RS meliputi lingkungan umum atau kondisi kebersihan RS atau alat yang ada di RS yang dibawa oleh pengunjung atau petugas kesehatan kepada pasien, dan sebaliknya.

ISOLASI
Isolasi sumber infeksi.
Diruang maternitas infeksi, seperti hepatitis B, Tuberkulosis, Salmonella atau Staphylococcus aureus yang resisten terhadap penisilin (Methicilin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Isolasi sumber infeksi merupakan istilah yang digunakan untuk asuhan yang bertujuan mengisolasi infeksi; yang akhirnya dapat diartikan dengan mengisolasi wanita yang terinfeksi. Gammon (1998) membahas dua pendekatan bertingkat yang dilakukan di Amerika Serikat, yaitu standar pencegahan yang di ikuti oleh pencegahan spesifik baik infeksi yang ditularkan melalui udara, droplet atau kontak.
Prinsip Umum
1. Di lingkungan RS, ruangan khusus dengan kamar mandinya merupakan alat isolasi yang paling banyak digunakan ; akan sangat bermanfaat  jika terdapat juga ruangan khusus tempat menyimpan barang-barang yang diperlukan.
2. Kamar harus dilengkapi dengan semua peralatan yang diperlukan, seperti sfignomanometer, peralatan mandi, teko air dan gelas, kotak untuk benda-benda tajam, sabun  antibakteri, handuk sekali pakai,alat tenun, kantong sampah berwarna kuning, stetoskop Pinard, dll. Tidak satupun dari semua peralat tersebut yang boleh dikeluarkan dari ruangan sebelum dibersihkan atau dibuang secara benar setelah ibu dipulangkan. Perabut yang tidak perlu harus dikeluarkan dan tanda isolasi ditempel di pintu yang mengindikasikan bahwa isolasi keperawatan sedang terjadi.
3. Alat-alat yang diperlukan pada saat akan masuk kamar seperti sarung tangan, skort,sekali pakai, masker, kaca mata pelindung, celemek plastic dan sikat tangan antibakteri diletakkan di troli, di luar kamar.
4. Bidan harus menghargai  nilai tim multidisiplin: perawat pengendali infeksi, ahli mikrobiologi, Obgien dan bidan semuanya perlu bekerja sama dan berkomunikasi dengan baik untuk memberikan asuhan yang tepat kepada ibu. Ibu juga perlu diingatkan untuk tetap berada di dalam kamarnya untuk melahirkan dan tindakan kewaspadaan tambahan harus dilakukan dengan tepat.
5. Ibu perlu memahami alas an dilakukannya isolasi dan bagaimana ia dapat membantu keberhasilan filosopi keperawatan. Keperawatan isolasi ini dapat menjadi isolasi social, dan bidan harus dapat meyakinkan ibu bahwa kesehatan psikologinya juga diperhatikan seperti halnya kesehatan fisik. Terkadang ada staf khusus yang ditugaskan untuk merawat ibu yang terinfeksi, dan staf tersebut tidak boleh berhubungan dengan ibu yang lain, terutama yang mudah terinfeksi.
Teknik memasuki, merawat dan meninggalkan ruang isolasi.
1. Siapkan alat tambahan yang diperlukan
2. Cuci tangan, pakai sarung tangan, celemek, dan pakaian pelindung lainnya yang diperlukan untuk melakukan prosedur.
3. Ketuk pintu; masuk ke ruangan dan kemudian tutup pintu kembali.
4. Lakukan asuhan yang diperlukan, selesaikan seluruh tugas di dalam kamar; Baki makanan dapat dibawa ke luar ruangan, layanan khusus untuk membersihkan ruangan dan kamar mandi setiap hari.
5. Pada saat akan meninggalkan ruangan, lepas semua alat pelindung, tinggalkan di ruangan tersebut dan cuci tangan.
6. Tutup pintu saat keluar; gunakan sikat tangan antibakteri setelah berada di luar kamar.
7. Pada saat pemulangan, kamar harus segera dibersihkan secara menyeluruh menggunakan larutan yang telah ditetapkan; mungkin diperlukan pembersihan dengan uap panas.Semua perabot dan peralatan lainnya dicuci dan dikeringkan : tirai pintu dikirim ke binatu, lantai berkarpek dapat dibersihkan dengan uap panas.

PENCEGAHAN INFEKSI.
Di masa lalu, fokus utama penanganan masalah infeksi dalam pelayanan kesehatan adalah pencegahan infeksi umum, Meminimalkan resiko penyebaran penyakit infeksi yang berbahaya seperti penyakit Acquired Immuno Deficiency Syndrome  (AIDS) dan penyakit hepatitis B yang belum ditemukan obatnya.
Prinsip dasar :
1.    Setiap orang ( ibu, bayi baru lahir, penolong persalinan ) harus dianggap dapat menularkan penyakit karena infeksi yang terjadi bersifat asimptomatik ( tanpa gejala ).
2.    Setiap orang harus dianggap beresiko terkena infeksi
3.    Permukaan tempat pemeriksaan, peralatan dan benda-benda lain yang akan dan telah bersentuhan  dengan kulit tak utuh / selaput mukosa atau dara, harus dianggap terkontaminasi sehingga setelah selesai digunakan harus dilakukan proses PI secara benar.
4.    Jika tidak diketahui apakah permukaan, dan benda-benda lainnya telah diproses dengan benar, harus dianggap telah terkontaminasi.
5.    Resiko infeksi tidak bisa dihilangkan secara total, tapi dapat dikurangi hingga sekecil mungkin dengan menerapkan tindakan PI benar dan konsisten.

Pedoman Pencegahan Infeksi termasuk:
.
MENCUCI TANGAN
Cuci tangan adalah prosedur yang paling penting dari prosedur Pencegahan penyebaran infeksi yang menyebabkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir.
Tujuan cuci tangan :
  1. Membersihkan tangan dari segala kotoran
  2. Mencegah terjadi infeksi silang melalui tangan
  3. Persiapan bedah atau tindakan pembedahan.
Waktu cuci tangan dilakukan :
  1. Segera setelah tiba ditempat kerja
  2. Sebelum melakukan dan setelah  kontak fisik langsung dengan ibu dan bayi yang baru dilahirkan.
  3. Sebelum memakai sarung tangan DTT atau steril
  4. Setelah melepaskan sarung tangan ( tangan bisa terkontaminasi jika sarung tangan berlubang atau robek.
  5. Setelah menyentuh benda yang mungkin terkontaminasi oleh darah atau cairan tubuh, selaput lendir ( hidung, mata, mulut, vagina ) meskipun saat itu sedang menggunakan sarung tangan.
  6. Setelah ke kamar mandi
  7. Sebelum pulang kerja.
Persiapan alat dan bahan :
Air bersih yang mengalir, Handuk, Sabun
Prosedur kerja :
  1. Lepaskan perhiasan ditangan dan prgelangan
  2. Basahi ke dua tangan dengan air bersih dang mengalir
  3. Gosok dengan kuat kedua tangan gunakan sabun biasa atau mengandung anti mikroba selama 15-30 detik ( mulai dari telapak tangan , punggung tangan, sela-sela jari, ujung jari dengan maju mundur dan atau putar pada telapak tangan, ibu jari dengan memutar dan pergelangan tangan , k/p siku. ( lihat gambar 9.1 )
  4. Bilas tangan dengan air yang mengalir
  5. Keringkan tangan kertas tissue yang bersih atau handuk pribadi tiap permukaan untuk tangan kiri/ kanan hingga kering.

Hal-hal diperhatikan :
  1. Sabun padat / batangan  gunakan dalam potongan – potongan kecil dan tempatkan sabun dalam wadah yang berlubang
  2. Jangan mencuci tangan dengan jalan mencelupkannya kedalam wadah berisi air, meskipun air tersebut sudah ditambah larutan antiseptic. MO dapat bertahan dan berkembang biak dalam larutan tersebut.
  3. Bila tidak tersedia air mengalir
    1. Gunakan ember tertutup dengan kran yang bisa ditutup pada saat mencuci tangan dan dibuka kembali pada saat membilas.
    2. Gunakan botol yang sudah diberi lubang agar air bisa mengalir
    3. Minta orang lain menyiramkan air ke tangan, atau ..
    4. Gunakan anti mikroba berbahan dasar alcohol ( campurkan 100 ml alcohol 60-90 % dengan 2 ml gliserin. Gunakan ± 2 ml dan gosok kedua tangan hingga kering, ulangi 3 x )
  4. Jangan menggunakan handuk orang lain atau handuk basah / lembab
  5. Jika tidak ada saluran air limbah, kumpulkan air bekas cuci tangan dibaskom kemudian buang ke saluram limbah atau jamban di kamar mandi.
  6. Pastikan tangan yang telah dibersihkan tidak bersentuhan dengan barang-barang  yang tidak di DTT atau disterilkan ( khusus tindakan pembedahan ).

Prinsip pengendalian PI
Gambar 9.1 Cuci tangan medis

  

Keterangan gambar
  1. Pada waktu membasuh tangan, posisikan telapak tangan selalu lebih rendah dari siku
  2. Mencuci telapak tangan
  3. Mencuci punggung tangan
  4. Mecuci sela-sela jari/ menjalin jari
  5. Mencuci ujung jari
  6. Mencuci ibu jari
  7. Mencuci pergelangan tangan
PELINDUNG DIRI
A. SARUNG TANGAN
Sarung tangan digunakan dalam melakukan prosedur tindakan, sebelum menyentuh sesuatu yang basah  atau terkontaminasi dan bagian atau alat aman
Persiapan alat / bahan
Sarung tangan,   bedah / Talk
Prosedur Kerja :
Cuci tangan secara menyeluruh. Bila sarung tangan belum diberi bedak, tangan terlebih dahulu dibubuhi bedak. Pegang tepi sarung tangan dan masukkan jari-jari tangan, pastikan ibu jari dan jari-jari lain tepat pada posisinya. Ulangi pada tangan yang lain. Setelah terpasang kedua tangan cakupkan kedua tangan

Gambar cara menggunakan sarung tangan :
















Tabel 1-1 : Tindakan yang memerlukan sarung tangan
No
Prosedur/ Tindakan
Sarung tangan yang :
Diperlukan
DTT
Steril
1.
Memeriksa TD,suhu,injeksi
Tidak
Tidak
Tidak
2.
Menolong persalinan, menjahit laserasi / episiotomy
Ya
Bisa diterima
dianjurkan
3.
Mengambil contoh darah/ apusan atau pemasangan IV
Ya 2
Tidak
Tidak
4.
Mengisap lender dari jalan nafas bayi baru lahir
Ya
Ya
Tidak
5.
Memegang & membersihkan alat terkontaminasi
Ya3
Tidak
Tidak
6.
Memegang sampah yang terkontaminasi
Ya
Tidak
Tidak
7
Membersihkan percikan darah/ cairan tubuh
Ya 3
Tidak
Tidak

Catatan :
Jika sterilisasi tidak memungkinkan, sarung tangan DTT adalah satu-satunya.
Sarung tangan periksa yang bersih bisa diterima. Sarung tangan tebal/rumah tangga dari lateks adalah paling praktis untuk tujuan mencuci peralatan, menangani sampah, membersihkan darah dan cairan tubuh. Sarung tangan sekali pakai lebih dianjurkan, tetapi jika sarananya sangat terbatas, sarung tangan bisa digunakan berulang kali hingga 3 kali pemprosesan. Jangan gunakan sarung tangan yang tak utuh.
B. MASKER
Tujuan : Mencegah atau mengurangi transmisi droplet mikroorganisme saat merawat pasien.
Prosedur Kerja :
Tentukan tepi atas dan bawah bagian masker. Pegang kedua tali masker. Ikatan pertama, bagian atas pada kepala, sedangkan ikatan kedua berada pada bagian belakang leher.
C. KACA MATA, CELEMEK, TOPI, SEPATU BOT
Perlengkapan pelindung pribadi mencegah pemaparan terhadap infeksi dan dapat melindungi penolong terhadap percikan dan luka terkena benda tajam selama melaksanakan prosedur klinik.
Baju pelindung ( gaun ) yang bersih, tetapi tidak perlu steril, digunakan selama melakukan semua prosedur persalinan:
Pada pemakain baju bedah berlengan pamjang, tepi  sarung tangan harus menutupi ujung lengan baju utuk menghindari kontaminasi.
Pastikan bahwa tangan yang telah memakai sarung tangan ( yang telah di DTT atau sterilisasi) diletakkan lebih tinggi dari pinggang dan tidak bersentuhan dengan baju pelindung.

ASEPTIK
Defenisi :
1. Adalah semua usaha yang dilakukan untuk mencegah masuknya Mo ke dalam tubuh yang kemungkinan besar akan mengakibatkan infeksi.
2. Teknik Aseptik , membuat prosedur lebih aman bagi ibu, bayi baru lahir dan penolong persalinan dengan cara menurunkan jumlah MO pada permukaan kulit, jaringan dan benda-benda mati hingga tingkat aman atau menghilangkannya secara keseluruhan.
3. Asepsis bedah (steril) adalah sterilitas kamar bedah dan teknik-teknik yang digunakan didalamnya. Asepsis medis (bersih) dilakukan pada hamper semua teknik/ prosedur.
Prinsip asepsis.
1. Cuci tangan: merupakan prinsip asepsis yang paling penting. Dalam keadaan tertentu penggosokan tangan dengan alcohol dapat diterima untuk prosedur biasa. Cuci tangan sebelum dan setelah prosedur
2. Penggunaan paket dan peralatan steril; Peralatan yang disterilkan secara sentral, biasanya menggunakan autoklaf. Perubahan warna pada pembungkus menunjukkan sterilitas, tetapi pembungkus tersebut diperiksa dengan baik untuk adanya robekan atau basah. Peralatan steril harus digunakan sebelum kadaluarsa.
3. Penggunaan pakaian pelindung
4. Penggunaan teknik tanpa sentuhan; Teknik ini berkaitan dengan cara pembentukan daerah steril, biasanya di troli balutan yang tidak boleh terkontaminasi dengan tangan belum dicuci dan benda-benda yang tidak steril. Troli tersebut dapat dilap dengan larutan desinfektan setiap kali sebelum digunakan. Rak bagian atas troli di alas dengan duk steril, letakkan/jatuhkan  alat steril setelah bungkus luarnya dibuka. Bagian ini steril sehingga hanya boleh disentuh oleh tangan yang sudah dicuci atau memakai sarung tangan steril, dan dibuka dengan cara memegang sudut/ ujung pembungkusnya saja. Untuk mencegah kontaminasi lingkungan, maka daerah steril harus ditutup dengan penutup steril.

ANTISEPTIK.
Adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah infeksi dengan cara membunuh atau mengurangi jumlah MO pada jaringan tubuh atau kulit.
Karena kulit dan selaput lendir tidak dapat disterlisasi, maka penggunaan larutan antiseptic bisa meminimalkan jumlah MO yang akan mengkontaminasi luka terbuka sehingga dapat terjadi infeksi.

Larutan antiseptic bisa diterima :
  1. Alkohol 60 – 90 % missal; Etil, Isopropyl, atau metal spiritus
  2. Setrimid / klorheksidin glukonat : Savlon
  3. Klorheksidin glukonat 4 % ; Hibiscrub, hibitan, Hibiclens
  4. Heksaklofen 3 % ; Phisohex
  5. Paraklorometaksilenol ( PCMX/ kloroksilenol : Detol
  6. Iodin 1-3 %, larutan yang dicampur alcohol atau ater (e.g.Lugol) atau tincture ( iodine dalam alcohol 70 % ). Iodin tidak digunakan pada permukaan mukose / Vagina
  7. Iodofor : bethadin. Klorheksidin glukonat dan Iodofor adalah antiseptic paling baik untuk digunakan pada mukosa.

Cara penggunaan larutan antiseptic
Persiapan kulit atau jaringan dengan cara mengusapkan kapas atau kasa yang sudah dibasahi larutan antiseptic dengan gerakan memutar, bergerak melingkar dari tengah keluar seperti spiral.Tujuan : dekontaminasi peralatan dan benda-benda yang digunakan dalam prosedur bedah.

Larutan desinfektan bisa diterima
  1. Klorin pemutih 0,5 % untuk dekontaminasi permukaan yang lebar dan DTT peralatan.
Rumus membuat larutan klorin 0,5 % dari konsentrat cair
Jumlah bagian air =      % larutan konsentrat      - 1
                                      % larutan yang diinginkan

Ditentukan larutan yang diinginkan 0,5 %,  larutan konsentrat 5,25 %
  1. Jumlah bagian air = 5,25 % - 1 = 10,5 – 1 = 9,5
                                 0,5 %
  1. Tambahkan 9 bagian air kedalam 1 bagian larutan klorin konsentrat 5,25 %

Rumus membuat larutan klorin 0,5 % dari konsentrat bubuk kering
Jumlah bagian air =      % larutan larutan yang diinginkan x 1000
                                                  % larutan konsentrat
Ditentukan larutan yang diinginkan 0,5 %,  larutan konsentrat 35 % ( kalsium Hipoklorida )
  1. Gram/liter  =  0,5 %  x 1000 = 14,3 gram / liter
                      35 %
  1. Tambahkan 14 gram bubuk klorin ke dalam 1 liter air bersih .

  1. Glutaraldehida 2 % , bisa digunakan untuk  dekontaminasi, tetapi karena mahal biasanya hanya digunakan untuk DTT atau sterilisasi kimiawi.

jangan gunakan desinfektan dengan senyawa fenol untuk desinfeksi peralatan atau bahan yang akan dipakai bayi baru lahir, karena membahayakan kondisi kesehatan bayi tersebut.

Cegah kontaminasi larutan antiseptic dan larutan desinfektan dengan cara :
  1. Hanya gunakan air matang untuk mengencerkan / jika pengenceran diperlukan
  2. Pinggiran wadah larutan utama tidak boleh bersentuhan dengan wadah yang lebih kecil
  3. Mengosongkan dan mencuci wadah dengan sabun dan air serta membiarkannya kering dengan cara diangin-anginkan setidaknya sekali seminggu ( tempelkan label bertuliskan tanggal pengisian ulang ).
  4. Menuangkan larutan antiseptic ke gulungan kapas atau kasa( jangan merendam gulungan kapas / kasa di dalam wadah ataupun mencelupkannya ke dalam larutan antiseptic.
  5. Menyimpan larutan di tempat yang dingin dan gelap.

PEMPROSESAN ALAT / INSTRUMEN
Definisi
Dekontaminasi adalah Tindakan yang dilakukan agar benda benda mati dapat ditangani oleh petugas kesehatan secara aman, benda-benda yang terkontaminasi darah atau cairan tubuh  ( meja pemeriksaan, peralatan medis, sarung tangan harus didekontaminasi segera setelah terpapar. Untuk perlindungan lebih jauh, pakai sarung tangan tebal/ sarung tangan rumah tangga dari lateks, jika menangani peralatan yang sudah kotor. Segera setelah digunakan masukkan benda-benda yang sudah terkontaminasi kedalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit. Ini akan cepat mematikan virus hepatitis B dan HIV.
Mencuci dan membilas : Tindakan menghilangkan semua darah, cairan tubuh, atau benda asing ( debu dan kotoran )
Desinfeksi : Tindakan yang dilakukan untuk membunuh  kuman pathogen dan apatogen, tetapi tidak membunuh spora yang terdapat pada alat perawatan dan alat kedokteran. Desinfeksi dilakukan dengan menggunakan bahan desinfektan melalui cara mencuci, mengoleskan, merendam dan menjemur.
Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT) : Tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua MO kecuali endospora bakteri dengan cara merebus/ kukus  atau secara kimiawi
Sterilisasi : Tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua MO ( bakteri, jamur, parasit dan virus ) termasuk endospora bakteri pada benda mati atau instrument dengan menggunakan autoklaf :panas kering/ tekanan uap panas tinggi.
Cara
1. Jenis peralatan : logam ( pinset, gunting, speculum, koher, dll), kaca (sepmrit, tabung kimia, dll), karet ( kateter, sarung tangan, pipa lambung, drain, dll), ebonite ( kanule rectum, trahea, dll), email (bengkok,cangkir, piring,dll), plastic, tenunan (kain kasa, tampon, duk, baju, laken,dll).
2. Prosedur: Bersihkan peralatan, peralatan yang dibungkus harus diberi label (nama,jenis, tanggal/ jam sterilisasi). Masukkan ke dalam sterilisator dan hidupkan sterilisator sesuai dengan waktu yang telah ditentukan Cara dengan merebus dalam air mendidih sampai 100º C ( 15-20 menit) untuk logam, kaca, karet. Sterilisasi uap panas di dalam autoklaf dengan waktu, suhu dan tekanan tertentu. Sterilisasi panas kering  dengan oven ( logam yang tajam, dll), DTT dengan bahan kimia ( klorin ) selama 20 menit

Skema pemrosesan peralatan bekas pakai
DEKONTAMINASI
Rendam dalam larutan klorin 0,5%
Selama 10 menit

                                                             
CUCI dan BILAS
Gunakan deterjen dan sikat
Pakai sarung tangan tebal u/ menjaga agar tidak terluka o/ benda-benda tajam


 


                                                                                                                                                
Metode yang dipilih                                              Metode alternative



                STERILISASI                                     DESINFEKSI TINGKAT TINGGI
                                                                                                                     
                                                                                                                        
Otoklaf                         Oven/Panas kering         Rebus/Kukus                Kimiawi
106 kPa
121ºC
30 mnt jika dibungkus
20 mnt (tidak dibungkus)


170C
60 menit


Panci tertutup
20 menit


Rendam
20 menit
   

DINGINKAN & KEMUDIAN SIAP DIGUNAKAN
( Peralatan yg sudah diproses bisa disimpan dalam wadah tertutup yang di DTT sampai satu minggu, jika wadahnya tidak dibuka )
________________________________________________________________
U/ menyiapkan wadah yang di DTT, rebus (jika kecil) atau isi dengan larutan klorin 0,5 % selama 20 menit ( larutan klorin bisa dipindahkan ke jirigen/wadah tertutup u/ digunakan ulang dalam waktu 24 jam). Bilas wadah dengan air DTT dan angin-anginkan sampai kering sebelum digunakan menyimpan alat DTT.

Efektifitas tindakan pencegahan infeksi
Efektifitas/ cara
Dekontaminasi
Pencucian
(hanya air mengalir)
Pencucian (deterjen & pembilasan
DTT
Sterilisasi
Mnghilangkan/ men-onaktifkan MO
Mbunuh virus HIV & Hepatatis
Hingga
50 %
Hingga 80 %
95 %
100 %
Waktu kerja yang diperlukan agar proses berjalan efektif
Rendam selama 10 menit
Cuci hingga bersih
Cuci hingga terlihat bersih
Rebus, kukus/ secara kimiawi 20 menit
Kukus 20-30 menit 160 kPa, 121ºC, panas kering 60 mnt pada suhu 170 C



PENANGANAN SAMPAH.
Sampah merupakan suatu bahan yang berasal dari kegiatan manusia dan sudah tidak dipakai atau sudah dibuang oleh manusia.
Tujuan pembuangan sampah: Mencegah penyebaran infeksi dan luka tusuk kepada petugas pelayanan kesehatan yang menangani sampah. Mencegah penyebaran infeksi ke masyarakat setempat.
Penanganan sampah:
Sampah tidak terkontaminasi bisa dibuang di dalam wadah sampah biasa. Sampah terkontaminasi adalah sampah dari limbah persalinan dan kelahiran, darah, nanah, feses, urin dan benda-benda yang tercemar oleh cairan tubuh. Setelah selesai melakukan suatu tindakan (asuhan persalinan) dan sebelum melepaskan sarung tangan, letakkan sampah terkontaminasi (kasa, gulungan kapas, verban, dll) kedalam tempat sampah kedap air/kantong plastik, sebelum dibuang. Hindari terjadinya kontak sampah terkontaminasi dengan permukaan luar kantong. Singkirkan sampah terkontaminasi dengan caradibakar. Jika hal ini tidak memungkinkan, kubur bersama wadahnya.
Sampah benda-benda tajam yang terkontaminasi yaitu menempatkannya dalam wadah tahan bocor (botol air mineral dari plastik atau botol infuse) atau wadah yang terbuat dari logam  dan segel dengan perekat jika sudah dua pertiga penuh. Wadah benda tajam yang sudah disegel tadi harus dibakar didalam incinerator. Jika benda tajam tidak bisa dibuang secara aman dengan incinerasi, bilas 3 x dengan larutan klorin 0,5 % untuk dekontaminasi, tutup kembali ujung atau bagian tajam dengan penutupnya menggunakan teknik satu tangan ( letakkan penutup jarum pada permukaan yang keras dan rata, Pegang tabung spoit dengan satu tangan dan gunakan jarum “mengait” penutup jarum dan jangan memegang penutup jarum dengan tangan lainnya. Jika jarum sudah tertutup seluruhnya, pegang bagian bawah jarum dan gunakan tangan yang lain untuk merapatkan penutupnya), kemudian ditanam dalam tanah.


1 komentar:

Afriani Sitepu mengatakan...

BAGUS SEKALI KARYANYA

Posting Komentar

PESONA CERDAS. Diberdayakan oleh Blogger.
 

PESONA CERDAS Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting