Rabu, 16 Juli 2014

MAKALAH PERDARAHAN POST PARTUM PRIMER

Diposting oleh Unknown di 13.52



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perdarahan post partum adalah perdarahan atau hilangnya darah sebanyak lebih dari 500 cc yang terjadi setelah anak lahir baik sebelum, selama atau sesudah kelahiran plasenta. Menurut waktu kejadianya, perdarahan post partum sendiri dapat dibagi atas perdarahan post partum primer yang terjadi dalam 24 jam setelah bayi lahir, dam perdarahan post partum sekunder yang terjadi lebih dari 24 jam sampai 6 minggu setelah kelahiran bayi.
            Atonia uteri menjadi penyebab lebih daro 90% perdarahan pasca persalinan. Lebidah dari separuh jumlah kematian ibu terjadi dalam waktu 24 jam setelah melahirkan.
            Insiden perdarahan post partum pada Negara maju sekitar 5% dari persalinan, sedangkan di Negara berkembang bisa mencapai 28% dari persalinan, danm menjadi masalah utama dalam kematian ibu, penyebabnya 90% atonia uteri, 7% robekan jalan lahir, sisanya di karenakan retensio plasenta dan gangguan pembekuan darah.

B.     Rumusan Masalah

1.      Definisi Perdarahan Post partum
2.      Tanda dan gejala perdarahan post partum
3.      Prognosa
4.      Indikasi tindakan
5.      Persiapan pasien
6.      Persiapan alat
7.      Persiapan petugas
8.      Penatalaksanaan
9.      Tindakan Evaluasi
10.  SOP (Standar Operasional Prosedur)

C.     Tujuan
Makalah ini bertujuan selain untuk memenuhi tugas kampus, juga untuk mengetahui  apa yang dimaksud perdarahan post partum, apa yang menyebabkan dan bagaimana cara penagnanya sesuai dengan Standar Operasional Prosedur.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi
1.      Made Korma Karkata
Pendarahan Post partum primer adalah yang terjadi dalam 24 jam pertama dan biasanya disebabkan oleh Atonia uteri, berbagai robekan jalan lahir, dan res plasenta.
2.      Wiknjosastro, 2005
Pendarahan post partum primer : sejak kelahiran sampai 24 jam pasca partum.
3.      Prof.dr.Ida Bagus Gde Manuabah. 1996
Perdarahan post partum primer atau early post partum Hemorrhage yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir. Penyebab utama post partum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, res plasenta, dan robekan jalan lahir. Terbanyak dalam 2 jam pertama.
B.     Penyebab
1.      Atonia uteri
2.      Retensio plasenta
3.      Sisa plasenta dan selaput ketuban
4.      Trauma jalan lahir
5.      Kelainan pembekuan darah misalnya hipofibrnogenemia.

C.     Tanda dan Gejala
1.      Uterus tidak berkontraksi dan lembek.
Perdarahan segera setelah anak lahir disertai dengan penyulit seperti shyok, bekuan darah pada serviks atau posisi terlentang akan menghambat aliran darah keluar (atonia uteri).
2.      Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir, uterus berkontraksi dan keras, plasenta lengkap.
Hal ini disertai dengan penyulit seperti pucat, lemah dan menggigil (robekan jalan lahir).
3.      Plasenta belum lahir setelah 30 menit, pendarahan segera, uterus berkontraksi dan keras.
Ditemukan penyulit seperti tali pusat putus akibat retraksi yang berlebihan, inversion uteri akibat tarikan dan terjadi pendarahan lanjutan (retensio plasenta)
4.      Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah)
Tidak lengkap, terjadi perndarahan segera. Disertai dengan penyulit seperti uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang (tertinggalnya sebagian plasenta atau res plasenta).

D.    Prognosa
Tidak adanya kontraksi uterus atau myometrium dapat menyebabkan perdarahan dan jika tidak segera ditindaki akan mengakibatkan kematian pada ibu.

E.     Indikasi tindakan
1.      Atonia uteri
2.      Robekan jalan lahir
3.      Retensio plasenta

F.      Persiapan Pasien
1.      Menjelaskan dan meminta persetujuan kepada pasien bahwa akan dilakukan suatu  tindakan  untuk menghentikan perdarahan.
2.      Memberikan posisi senyaman mungkin kepada pasien agar tidak terlalu merasakan nyeri.
3.      Jika pasien dalam kondisi tidak sadar, makan beritahu keluarga dan meminta peretujuan bahwa akan dilakukan suatu tindakan untuk menghentikan perdarahan.




G.    Persiapan Alat
1.      Alat pelindung diri (masker,kacamata,handscoen)
2.      Obat emergency
3.      Obat-obatan anti perdarahan
4.      Cairan infus
5.      Tampon

H.    Persiapan Petugas
Memakai alat pelindung diri seperti celemek, masker, sepatu boot, memakasi sarung tangan untuk menghindari terjadinya infeksi silang.

I.       Penatalaksanaan
1.      Masase fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta (maksimal 15 detik)
Alasan : Masase merangsang

J.       Evaluasi
1.      jika uterus berkontraksi dan perdarah berkurang teruskan melakukan kbi selama 2 menit, kemudian perlahan-lahan keluarkan tangan dari dalam vagina pantau kondisi ibu secara melekat selama kala 4.
2.      jika uterus berkontraksi tapi perdarahan terus berlangsung periksa perineum vagina dari serviks apakah terjadi laserasi di bagian tersebut segera lakukan penjahitan jika ditemukan laserasi .
3.      jika kontraksi uterus tidak terjadi dalam 5 menit ajarkan keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksternal (Kbe) kemudian teruskan dengan langkah-langkah penatalaksanaan atonia uteri selanjutnya, minta tolong keluarga untuk mulai menyiapkan rujukan.
4.      berikan 0,2mg Ergometryn IM (jangan berikan Ergometryn dengan ibu hipertensi).
5.      menggunakan jarum berdiameter besar ukuran 16 atau 18, pasang infus dan berikan 500 ml larutan rl yang mengandung 20 unit oksitosin.
6.      pakai sarung tangan steril atau dtt dan ulangi KBI
7.      jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu sampai 2 menit, segera lakukan rujukan (berarti bukan atonia uteri sederhana) membutuhkan perawatan gawat darurat di fasilitas kesehatan yang dapat melakukan tindakan pembedahan dan transfusi darah.
8.      dampingi ibu ke tempat rujukan . teruskan melakukan kbi hingga ibu tiba ditempat rujukan atau hingga jumlah cairan yang di infuskan mencapai 1,5 liter dan kemudian berikan 125 ml per jam.
9.      jika cairan iv tidak cukup, infuskan botol kedua berisi 500ml cairan dengan tetesan lambat dan berikan cairan secara oral untuk asupan cairan tambahan.


K.    SOP
1.      Segera setelah plasenta dan selaput ketuban dilahirkan, lakukan massase uterus supaya berkontraksi (selama maksimal 15 detik) untuk mengeluarkan gumpala darah. Sambil melakukan massase uterus periksa plasenta dan selaput ketuban untuk memastikan plasenta utuh dan lengkap.
2.      Jika perdarahan terus terjadi dan uterus teraba berkontraksi baik, berikan 10 unit oksitosin IM.
3.      Jikan kandng kemih ibu bisa di palpasi, pasang kateter kedalam kandung kemih.
4.      Periksa laserasi pada perineum, vagina, dan serviks dengan menggunakan lampu yang terang. Jika sumber perdarahan sudah diidentifikasi, klem dengan forcep arteri dan jahit laserasi dengan menggunakan anastesi local (lidocain 1%).
5.      Jika uterus mengalami atonia atau perdarahan terus terjadi, berikan massase uterus untuk mengeluarkan gumpalan darah.
6.      Periksa lagi apakah plasenta utuh, usap vagina dan ostium serviks untuk menghilangkan jaringan plasenta atau selaput ketuban yang tertinggal.
7.      Jika kandung kemih ibu bisa di palpasi, pasang kateter kedalam kandung kemih
8.      Lakukan kompresi bimanual internal maksimal 5 menit atau hingga berdarah bisa dikendalikan dan uterus berkontraksi dengan baik.
9.      Anjurkan keluarga untuk memulai persiapan rujukan.
10.  Jika perdarahan dapat dikendalikan dan uterus berkontraksi dengan baik :
·         Terus kompresi bimanual 1-2 menit atau lebih
·         Keluarkan tangan dari vagina dengan hati-hati
·         Pantau kala IV bersalin dengan seksama. Termasuk sering melalukakan massase uterus untuk memeriksa atoni, mengamati perdarahan dari vagina, tekanan darah dan nadi.
11.  Jika perdarahan tidak terkendali  dan uterus tidak berkontraksi dalam waktu 5 menit  setelah dimulainya kompresi bimanual pada uterus makan keluarkan tangan dari vagina dengan hati-hati.
12.  Jika tidak ada hipertensi pada ibu maka berikan  metergin 0,2 mg IM.
13.  Mulai IV RL 500 cc + 20 unit oksitosin menggunakan jarum berlubang besar (16 atau 18 G) dengan teknik aseptic. Berikan 500 cc pertama secepat mungkin  dan teruskan dengan  IV RL  + 20 unit oksitosin yang ke 2.
14.  Jika uterus tetap atonia dan atau perdarahan terus berlangsung ulangi kompresi bimanual internal.
15.  Jika uterus berkontraksi, lepaskan tangan anda perlahan-lahan dan pantau kala IV persalinan dengan cermat.
16.  Jika uterus tidak berkontraksi rujuk segera ke tempat dimana operasi bisa dilakukan.
17.  Bila perdarahan tetap berlangsung dan kontraksi uterus tetap tidak ada, maka kemungkinan terjadi rupture uteri, (syok cepat terjadi tidak sebanding dengan darah  yang Nampak keluar, abdomen teraba keras dan fundus mulai membaik), lakukan kolaborasi dengan obsgyn.
18.  Bila kompresi bimanual tidak berhasil maka coba kompresi aurta. Cara ini dilakukan pada keadaan darurat, sementra penyebab perdarahan sedang di cari.
19.  Perkirakan jumlah darah yang keluar dan cek dengan teratur  nadi, RR, dan TD.
20.  Buat catatan yang seksama tentang semua penilaian tindakan yang dilakukan dan pengobatan yang dilakukan.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Perdarahan post partum adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir dan akan berakibat fatal apabila tidak di tangani dengan tepat sehingga menyebabkan kematian bagi ibu.
Penyebab utama perdaraha post partum adalah atonia uteri, yang apabila tidak dapat ditangani maka segera lakukan rujukan.

B.     Kritik dan Saran
Apabila dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kesalahan, maka kami dari pihak penulis menghaturkan permohonan maaf sebesar-besarnya karena kesemuanya tak lepas dari kodrat kami sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.


Daftar Pustaka
·         Rahmawati Nur Eni. Ilmu Praktis Kebidanan, Victory Inti Cipta. Surabaya : 2011
·         Sarwono Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan Edisi 2010. PT.Pustaka Sarwono Prawihardjo, Jakarta : 2010

0 komentar:

Posting Komentar

PESONA CERDAS. Diberdayakan oleh Blogger.
 

PESONA CERDAS Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting